Perbedaan Ejaan Van Ophuijsen, Suwandi, EYD dan Ciri-Cirinya

Kali ini saya akan sajikan ulsan mengenai  apa perbedaan antara ejaan Van Ophuijsen, dengan ejaan Suwandi, serta EYD yang tentu saja harus kalian pahami lebih dalam makna dari ke tiga jenis Ejaan ini. Ok sekarang saya coba jelaskan mulai dari pengertianya kemudian sedikit sejarah dan contoh dari masing masing ejaan ini sehingga dengan mudah untuk di pahami ketika menemukanya dalam sebuah kalimat atau wacana.

Ejaan Van Ophuijsen atau Ejaan Lama merupakan salah satu ejaan dalam bahasa indonesia yang memang pada jaman dulu pernah digunakan. Dalam sejarahnya Ejaan Van Ophuijsen ini dulu banyak digunakan oleh orang belanda dalam menulis bahasa melayu sehingga memang masa penjajahan di Indonesia sudah dikenal. Adapun dalam segi penggunaan maka bisa dilihat dibawah ini apa perubahannya dengan ejaan biasa:

  • huruf ‘j’ untuk menuliskan bunyi ‘y’, seperti pada kata jangpajahsajang.
  • huruf ‘oe’ untuk menuliskan bunyi ‘u’, seperti pada kata-kata goeroeitoeoemoer (kecuali diftong ‘au’ tetap ditulis ‘au’).
  • tanda diakritik, seperti koma ain dan tanda trema, untuk menuliskan bunyi hamzah, seperti pada kata-kata ma’moer‘akalta’pa’dinamaï.

Huruf hidup yang diberi titik dua diatasnya seperti äëï dan ö, menandai bahwa huruf tersebut dibaca sebagai satu suku kata, bukan diftong, sama seperti ejaan Bahasa Belanda sampai saat ini.

Sejarah singkat

Perbedaan Ejaan Van Ophuijsen, Suwandi, dan EYD

Perbedaan Ejaan Van Ophuijsen, Suwandi, dan EYD

Pada tahun 1901 diadakan pembakuan ejaan bahasa Indonesia yang pertama kali oleh Prof. Charles van Ophuijsen dibantu oleh Engku Nawawi gelar Sutan Makmur dan Moh. Taib Sultan Ibrahim. Hasil pembakuan mereka yang dikenal dengan Ejaan Van Ophuijsen ditulis dalam sebuah buku. Dalam kitab itu dimuat sistem ejaan Latin untuk bahasa Melayu di Indonesia.

Van Ophuijsen adalah seorang ahli bahasa berkebangsaan Belanda. Ia pernah jadi inspektur sekolah di maktab perguruan Bukittinggi, Sumatera Barat, kemudian menjadi profesor bahasa Melayu di Universitas Leiden, Belanda. Setelah menerbitkan Kitab Logat Melajoe, van Ophuijsen kemudian menerbitkan Maleische Spraakkunst (1910). Buku ini kemudian diterjemahkan oleh T.W. Kamil dengan judul Tata Bahasa Melayu dan menjadi panduan bagi pemakai bahasa Melayu di Indonesia. wikipedia.

Ok selanjutnya lebih detail lagi akan kita bahas mengani ciri ciri dari ejaan ini sahabat bisa cermati dalam ulasan rincinya berikut ini.

Ciri Ciri Ejaan Van Ophuijsen

1)      Masih menggunakan huruf/ j/ untuk bunyi huruf /y/ seperti contoh yang atau Sayang  ditulis dengan  jang, sajang.

2)      Masih menggunakan huruf /oe/ untuk untuk bunyi huruf /u/ seperti kata itu dan guru ditulis dengan itoe dan guroe.

3)      Masih Menggunakan Tanda diakritik, seperti koma ain // seperti contoh ma’moer, ‘akal, dan huruf  /k/ ditulis dengan tanda // pada akhir kata misalnya bapa’,ta’

4)      Jika pada suatu kata berakhir dengan huruf /a/ mendapat akhiran /i/, maka di atas akhiran itu diberi tanda trema / ta’, pa’, dinamai’

5)       Huruf /c/ yang pelafalannya keras diberi tanda // diatasnya.

6)      Kata ulang diberi angka 2, misalnya: jalan2 (jalanjalan)

7)       Kata majemuk dirangkai ditulis dengan 3 cara :

  1. Dirangkai menjadi satu, misalnya /hoeloebalang, apabila/, dsb.
  2. Dengan menggunakan tanda penghubung misalnya /rumah-sakit/,dsb.
  3. Dipisahkan, misalnya /anak-negeri/,dsb.

Ciri Ciri Ejaan Suwandi

1)      Penggunaan huruf /oe/ dalam ejaan Van Ophuijsen berubah menjadi /u/ seperti pada contohguruituumur.

2)      Masih menggunakan huruf /dj/ djalan untuk kata jalan, /j/ pajung untuk kata payung, /nj/ bunji untuk kata bunyi, /tj/ tjukup untuk kata cukup, /ch/ tarich untuk kata tarikh.

3)      Tanda Koma ain dan koma hamzah untuk  bunyi sentak dihilangkan ditulis dengan k, seperti pada kata-kata tak, pak, makmur, rakyat.

4)      Kata ulang masih seperti ejaan Van Ophuijsen ditulis dengan angka 2, seperti anak2, jalan2, ke-barat2-an.  Awalan di- dan kata depan di kedua-duanya ditulis serangkai dengan kata yang             mengikutinya, seperti kata depan di pada dirumah, dikebun, disamakan dengan  imbuhan di- pada ditulis, dikarang.

5)      Huruf /e/ keras dan /e/ lemah ditulis tidak menggunakan tanda, misalnya ejaan, seekor, dsb.

6)      Tanda trema pada huruf /a/ dan /i/ dihilangkan.dinamai’ menjadi dinamai

7)      Penulisan kata ulang dapat dilakukan dengan dua cara

Contohnya:

  1. Berlari-larian 
  2. Berlari2-an

8)      Penulisan kata majemuk dapat dilakukan dengan tiga cara

      Contohnya :

  1. Tata laksana
  2. Tata-laksana
  3. Tatalaksana

9)      Kata yang berasal dari bahasa asing yang tidak menggunakan /e/ lemah (pepet) dalam bahasa Indonesia ditulis tidak menggunakan /e/ lemah, misalnya : /putra/ bukan /putera/, /praktek/ bukan /peraktek/, dsb.

Ø  Ejaan Yang Disempurnakan mempunyai ciri-ciri diantaranya:

1)      Perubahan Huruf Ejaan Suwandi dari /dj/ menjadi /j/ (jalan) ,/j/ menjadi /y/ (payung),  /tj/ menjadi /c/ (cukup), /ch/ menjadi /kh/ (tarikh)

2)      Huruf-huruf di bawah ini, yang sebelumnya sudah terdapat dalam Ejaan Soewandi sebagai unsur pinjaman abjad asing, diresmikan pemakaiannya.seperti f: maaf, fakir, v: valuta, universitas, z: zeni, lezat

3)      Huruf-huruf q dan x yang lazim digunakan dalam ilmu eksakta tetap dipakai.
a : b = p : q Sinar-X

4)      Penulisan di- atau ke- sebagai awalan dan di atau ke sebagai kata depan dibedakan, yaitu di- atau ke-sebagai awalan ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya, sedangkan di atau ke sebagai kata depan ditulis terpisah dengan kata yang mengikutinya. Contoh:

  1. di- (awalan): ditulis, dibakar,dilempar dsb.
  2. di (kata depan): di kampus, di rumah, di jalan dsb.

5)      Kata ulang ditulis penuh dengan huruf, tidak boleh digunakan angka 2 dengan menggunakan tanda , seperti anak-anak, berjalan-jalan, meloncat-loncat dsb.

6)      Penulisan kata ulang dengan menggunakan angka /2/ hanya diperkenankan pada tulisan cepat atau notula.

7)      Penulisan kata majemuk harus dipisahkan dan tidak perlu menggunakan tanda hubung.

Contoh :

Duta-besar menjadi duta besar

Kaya-raya menjadi kaya raya

Tata-usaha menjadi tata usaha

8)      Kata ganti ku, mu, kau, dan nya ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Contohnya : kumiliki, dipukul, barangmu, pacarku, dsb.

9)      Partikel pun terpisah dari kata yang mendahuluinya, kecuali pun yang menjadi kelompok kata.

Contohnya :

Kapan pun aku tetap menantimu

Meskipun demikian aku tak akan marah (meskipun adalah kelompok kata)

10)  Penulisan kata si dan sang dipisah dari kata yang mengikutinya.

Contohnya :

Si penjual bakso bukan sipenjual bakso

Sang pujangga bukan sangpujangga

11)  Partikel per berarti tia-tiap dipisah dari kata yang mengikutinya.

Contonya :

Per orang bukan perorang

Per lembar bukan perlembar

/* */